EMPATHY DAN DESIGN THINKING DALAM PENDIDIKAN STEM

STEM  atau STEAM  di Indonesia tidaklah asing lagi, namun demikian  STEM atau STEAM jangan  dianggap hanya dapat mengejawantahkan ilmu eksakta yang dikolaborasikan dengan sains dan enjinering. Lalu bagaimana dengan ilmu sosial, ilmu seni, ilmu bahasa, dan lain sebagainya dalam  berperan? 


Adakah tujuan Pendidikan STEM  yang ingin membentuk sumber daya manusia (SDM) yang mampu bernalar dan berpikir kritis, logis, dan sistematis, sehingga mereka nantinya mampu menghadapi tantangan global di era teknologi bisa berjalan tanpa adanya keterkaitan dengan lmu ilmu sosial, moral dan kewarganegaraan?  Tentunya dalam hal ini perlu  penanaman moral dan kemampuan bersosial yang baik sangat mempengarui berjalannya pendidikan STEM yang lebih baik.



”Jangan pernah menganggap suatu ide dari siswa itu konyol, atau menganggap tidak akan berfungsi. Respon terhadap ide seperti ini adalah “YA”, tetapi bagaiman jika .... (what if) ...  dengan kondisi yang diubah.”

 


EMPATI (EMPATHY)
Bidang STEM sering dikaitkan dengan atribut "otak kiri". Mereka didasarkan pada logika dan formula, bukan pada emosi. Jadi mengapa empati harus berperan saat merancang kurikulum STEM? Sebagian besar karena manusia tidak sepenuhnya logis, dan kurangnya empati menyebabkan konsekuensi serius dalam situasi sosial.


Bukan kebetulan bahwa kecerdasan emosional telah menjadi komoditas panas di dunia kerja. Seorang insinyur atau pengembang yang brilian mungkin dapat melakukan pekerjaan yang ditugaskan padanya, dan melakukannya dengan baik, tetapi tanpa empati dan kecerdasan emosional, pekerjaan itu hanya dapat berjalan sendiri.
Pendidikan STEM yang lengkap perlu mengajarkan kemampuan untuk mempertimbangkan pikiran, perasaan, dan emosi orang lain. Keterampilan ini tidak hanya membantu untuk berhubungan dengan rekan kerja, tetapi untuk memahami dan mengembangkan terobosan.  Kita  adalah kunci keberhasilan di setiap industri, dan empati diperlukan untuk benar-benar mencapai inti dari kebutuhan spesifik masyarakat itu. Ini berlaku apakah khalayak  sedang menunggu teknologi canggih seperti iPhone dan mesin mesin berikutnya atau tertarik menyelamatkan planet ini dengan sumber energi alternatif. Mempertimbangkan pikiran dan perasaan manusia  membantu untuk menghasilkan perangkat yang lebih baik, peningkatan, dan solusi untuk masalah global.
Empati juga berperan dalam inovasi, karena kolaborasi adalah bagian penting dari membawa produk atau ide dari brainstorming menjadi kenyataan. Di tempat kerja, jika orang tidak memiliki empati atau keterampilan sosial yang mereka butuhkan untuk bekerja bersama, inovasi akan terhambat.
Contoh penerapan belajar untuk berempati:

  • Masalah siapa yang akan anda pecahkan? Untuk siapa anda membuat desain?
  • Bagaimana anda bisa lebih memahami pengalaman dan kebutuhan orang tersebut?
  • Bagaimana anda mengembangkan desain secara singkat untuk merefleksikan kebutuhan orang tersebut?
  • Bagaimana anda tahu bahwa desain anda berhasil? Test dan umpan balik apa yang anda perlukan?

 

DESAIN PEMIKIRAN  (Design Thinking)
Seringkali suatu desain bagus ketika diterapkan pada konteks tertentu tetapi tidak berjalan baik pada konteks yang lain. Tidak ada resep yang dapat memastikan desain itu sesuai. Keunikan setiap konteks menyebabkan inovasi harus didesain ulang di setiap sekolah, kelas, dan aktivitas belajar profesional. Hal ini menjadikan pendidikan rumit, apalagi ditambah dengan masuknya teknologi yang membantu menjelaskan mengapa inovasi tidak dapat begitu saja direplikasi, atau dijamin hasilnya.  Masalah rumit adalah masalah yang sebenarnya tidak dapat diselesaikan langsung atau masalah itu harus diselesaikan melalui tahapan berulang-ulang.

 

Penggunaan teknologi oleh guru bukanlah sekedar pelatihan. Alih-alih mencari model desain, fokus pada proses lebih dipentingkan. Kita harus memahami perubahan konteks yang terjadi dan berksperimen serta menguji inovasi. Selain itu, yang harus dibangun adalah kepercayaan diri atas kreativitas kita.
Bagaimana kita mengatasi masalah besar dan rumit? Caranya adalah melalui desain proses, desain berpikir (design thinking).  Design thinking adalah suatu cara untuk melibatkan siswa dalam penelitian lanjut dan pengembangan gagasan berbasis aksi. Desain Proses: Memahami – memikirkan – membuat prototipe- menguji,  dan ini bisa terjadi berulang-ulang.  Harus lebih ditekankan pada proses daripada solusi. Sementara itu guru harus mempunyai rasa lebih percaya diri karena seringkali guru juga belum memiliki solusi yang tepat. Memerlukan kerja individu dan kerja kelompok, memerlukan ide divergen dan konvergen, berpikir secara kreatif dan ide-ide yang berbeda.



STEM bagi seorang guru
Guru harus memberikan kesempatan kepada peserta didik agar peserta didik dapat  mengembangkan ide kreatif dan mengembangkan keahliannya dalam menerapkan pola pikir STEM dan bertindak sesuai konteks yang relevan.
Pada pendidikan STEM, guru itu seperti bekerja pada ruang di antara empat bidang ilmu sains, teknologi, enginering, dan matematika. Lalu sebagai seorang guru, apa yang dapat saya lakukan tetang pendidikan STEM ini? Guru perlu merencanakan bagaimana pendidikan STEM itu dapat menjawab berbagai kebutuhan sebagaimana digariskan pada kurikulum.


STEM bagi peserta didik
Belajar dalam konteks STEM akan menjadi pendidikan yang relevan bila proses belajar itu berdampak positif pada kehidupan peserta didik. Dampak positif bisa berupa pemenuhan kebutuhan sesuai minat peserta didik dan juga dalam hal antisipasi kebutuhan masa depan yang mungkin belum disadari oleh peserta didik.



STEM TERPADU
Pendidikan STEM terpadu adalah suatu pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan pengajaran sains dan matematika melalui perpaduan praktik penyelidikan ilmiah, desain teknologi dan engineering, analisis matematis, dan keterampilan interdisiplin abad 21.


Persamaan antara sains dan matematika adalah dalam riset, yaitu menjelaskan, menganalisis, dan memprediksi. Sementara itu, persamaan antara teknologi dan engineering adalah dalam hal desain, yaitu mencipta, meemcahkan masalah, dan mengoptimalkan. Lalu, bagaimana cara memadukan STEM? Apabila dikaitkan dengan riset atau penelitian, tentu tidak ada jawabannya. Tetapi bila dikaitkan dengan desain, akan ada berbagai kemungkinan jawaban.

Karakteristik pendekatan STEM terpadu  adalah:

  1. Mengintegrasikan konten dari berbagai disiplin STEM
  2. Melibatkan peserta didik pada permasalahan yang otentik, relevan dengan dunia nyata
  3. Mengaktifkan peserta didik dan menimbulkan keingintahuannya dengan melibatkan mereka pada aktivitas riset
  4. Melibatkan peserta didik secara aktif dalam menciptakan beberapa jenis artefak eksternal karena peserta didik lebih siap untuk membangun ide baru bila mereka terlibat dalam perencanaan / desain
  5. Memberikan peserta didik kesempatan berkomunikasi dan berkolaborasi dengan teman dan juga dengan orang dewasa di sekitarnya untuk mengembangkan pola pikir dan memperdalam pengetahuan


Suatu pendekatan pembelajaran yang menggantikan tradisi belajar lama (yang memisahkan keempat disiplin ilmu tersebut) dengan mengintegrasikan keempatnya di dalam pembelajaran nyata, dan memberikan pengalaman belajar yang relevan bagi peserta didik.


Keterampilan dan kemampuan yang dilatih di dalam pendidikan STEM meliputi pengetahuan mendalam tentang suatu hal, kreativitas, pemecaham masalah, berpikir kritis, dan keterampilan berkomunikasi. Keterampilan ini disebut juga sebagai bagian dari keterampilan abad 21. Semua kemampuan ini sangat relevan dengan berbagai macam pekerjaan yang terus berkembang dan menjadi sangat penting di dunia kerja di masa depan.
Dari sudut pandang ekonomi, manusia dituntut untuk memiliki kreativitas agar dapat bersaing di dunia global. Kreativitas secara ekonomi yang dimaksud meliputi dua hal penting, yaitu inovasi dan kewirausahaan, yang merupakan agen perubahan.  Inovasi dan kewirausahaan harus merupakan kreativitas yang original atau gagasan kreatif.
Dari sudut pandang pendidikan dan sosial, pendidikan STEM membantu seseorang untuk mengembangkan berbagai keterampilan dan pola pikir sehingga memampukan dia untuk melihat dan menggapai peluang.
Komponen yang perlu dilatih dan dikembangkan dalam pendidikan STEM adalah kreativitas, keterampilan berpikir kritis, kemampuan berpikir sebagai ahli, kemampuan berkolaborasi, dan keterampilan berkomunikasi kompleks.

Kreativitas
Kreativitas merupakan upaya seseorang atau sekelompok orang yang bekerja sama  untuk menghasilkan gagasan / ide baru dan bermanfaat. Perlu dipahami lebih mendalam tentang kreativitas ini, yaitu:

  • Kreativitas bukanlah merupakan suatu keberuntungan yang diperoleh secara Cuma-Cuma
  • Semakin banyak gagasan (kuantitas), semakin besar kemungkinan untuk memiliki gagasan kreatif yang sesungguhnya
  • Kreativitas membutuhkan keahlian teknis yang mendalam pada suatu bidang ilmu dan juga pengetahuan yang luas di bidang ilmu lainnya, meskipun bidang-bidang ilmu tersebut tampaknya tidak saling berkaitan.
  • Kreativitas itu merupakan suatu kemampuan untuk mengkombinasikan berbagai elemen dengan cara baru dan sesuai dengan tugas yang dihadapi
  • Kreativitas itu merupakan kemampuan untuk melihat dan menemukan pola pada suatu hal dimana orang lain melihatnya  sebagai suatu keruwetan.
  • Kreativitas itu akan muncul pada seseorang bila dia diizinkan untuk gagal berkali-kali agar dapat sukses
  • Kreativitas itu sangat dipengaruhi oleh motivasi intrinsik
  • Kreativitas itu sangat berkaitan erat dengan upaya sadar, kerja keras, dan ketekunan.



Keterampilan berpikir kritis
1.Ada 4 kemampuan yang harus dimiliki seseorang dalam berpikir kritis, yaitu
a.Mengevaluasi bukti-bukti (evidence) yang ada dengan mampu menjawab pertanyan berikut:
b.Apa yang bisa dianggap sebagai bukti?
c.Bukti itu berupa apa saja (dalam bentuk apa)?
2.Menganalisis dan mensintesis bukti 
a.Analisis dan sintesis seperti apa?
b.Menarik kesimpulan
c.Berdasarkan kerangka pikir seperti apa?
3.Menghargai berbagai sudut pandang dan penjelasan
4.Bagaimana menilai kualitas pandangan/penjelasan alternatif tersebut?
5.Ada 3 cara pikir dalam keterampilan berpikir kritis, yaitu:
a.Berargumen, apakah argumennya logis, deduktif, induktif, rasional?
b.Membuat penilaian dan keputusan, berdasarkan keahlian (expertise), nilai, kepercayaan, dan kerangka apa?
c.Memecahkan masalah, apakah secara terbuka/terutup, konvergen/divergen, berjejaring?

Kemampuan Berpikir Ahli
Kemampuan para ahli dalam berpikir dan memecahkan masalah sangat tergantung pada kedalaman pengetahuannya dalam suatu disiplin ilmu. Para ahli memahami bagaimana fakta-fakta berhubungan satu sama lain berdasarkan konsep, ide besar yang mendasar, skema, dasar pengetahuan yang luas. Para ahli mampu mengenali pola karena mereka bekerja berdasarkan pengetahuan yang luas dan terstruktur , dan mereka dapat dengan mudah memahami informasi baru. Para ahli juga memiliki keterampilan metakognitif, misalnya mampu memikirkan cara membuat peserta didik memahami materi. Contoh-contoh kemampuan keahlian seorang chef, mampu mengganti bahan dengan bahan lain ketika bahan yang tertera di resep tidak tersedia. Demikian juga seorang ahli Pembelajaran mampu menyusun ulang pembelajaran yang di inginkan jika media dan penunjang lainnya tidak sesuai dengan tuntutan kurikulum namun dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan oleh kurikulum. 



Kemampuan berkolaborasi
Perlu dipahami bahwa kolaborasi tidak identik dengan kerja kelompok. Di dalam kerja kelompok, pekerjaan dapat diselesaikan oleh satu atau beberapa orang anggota kelompok saja, sementara anggota kelompok lain berperan sedikit atau tidak sama sekali. Ketika berbicara tentang kolaborasi, semua anggota kelompok memiliki peran dan partisipasi yang sama pentingnya.

Kolaborasi meliputi kemampuan-kemampuan berikut ini:
1.Kemampuan untuk berhubungan baik dengan orang lain, seperti
a.Berempati, memainkan peran orang lain dan memahami situasi dari sudut pandang orang tersebut
b.Mengelola emosi orang tersebut secara efektif
2.Kemampuan untuk bekerjasama, yang meliputi
a.Kemampuan mengemukakan gagasan dan menyimak gagasan orang lain
b.Kemampuan memahami dinamika suatu diskusi dan mengikuti jalannya pembicaraan
c.Kemampuan membangun aliansi taktis dan berkesinambungan
d.Kemampuan bernegosiasi
e.Kemampuan mengambil keputusan yang mengakomodasi berbagai pendapat
3.Kemampuan mengelola dan menyelesaikan konflik
a.Kemampuan menganalisis isu dan minat (misalnya kekuasaan, pengakuan prestasi, pembagian tugas, kesetaraan), asal muasal konflik dan argumen dari berbagai pihak, dengan menyadari bahwa ada beberapa kemungkinan penyelesaian masalah.
b.Kemampuan untuk mengidentifikasi area kesepakatan dan ketidaksepakatan
c.Kemampuan memetakan permasalahan
d.Kemampuan memprioritaskan kebutuhan dan tujuan, memutuskan hal apa yang anda dapat tolerir dan dalam sirkumstansi seperti apa.




Keterampilan berkomunikasi kompleks
Kemampuan berkomunikasi kompleks harus mempertimbangkan perbedaan individu, dan harus melebihi ekspektasi sebagaimana tertulis. Oleh karena itu,kemampuan berkomunikasi ini harus meliputi komunikasi lisan, verbal, visual, non verbal, dan kemampuan memahami hal yang tak terucap.



Mengevaluasi aktivitas STEM
Dalam membuat evaluasi untuk kegiatan STEM, yang perlu dipertimbangkan  adalah:
1)Pengetahuan dan keterampilan apa yang dibutuhkan oleh peserta didik dalam mengerjakan kegiatan STEM tersebut
2)Pengetahuan dan keterampilan apa yang dibutuhkan oleh guru dalam mengerjakan kegiatan STEM tersebut
3)Apakah kegiatan STEM tersebut menantang dan dapat dikerjakan oleh peserta didik/ guru?

Hambatan-hambatan dalam STEM:
•Konten
•Pengetahuan dan keyakinan guru
•Struktur sekolah
•Kurikulum
•Penilaian
Peran penting dari sebuah kegagalan
•Kegagalan adalah merupakan bagian alami dan yang diharapkan dalam proses desain dan inkuiri
•Ada perbedaan antara mengambil pelajaran dari dan menguji kegagalan dan membuat kesalahan
•Guru dan peserta didik mungkin merasa tidak nyaman membahas kegagalan karena biasanya kegagalan adalah sesuatu yang dihindari

Menilai pembelajaran STEM
•Apa yang harus dinilai?
o(pengetahuan, keterampilan, kemampuan, sikap)
oProses atau produk
•Siapa yang menilai?
oGuru, teman, diri sendiri, atau orang lain
•Kapan dan seberapa sering?
oSebagai test formatif, sumatif
•Bagaimana menilai?
oInstrumen: test, produk, portofolio, pengamatan, rubrik
•Taksonomi (Bloom, Krathwohl)

 

Tiga Domain Pembelajaran adalah Kognitif (keterampilan mental, pengetahuan, Psikomotor (keterampilan fisik, manual) , dan afektif (emosional, sikap)

Ada 3 fungsi penilaian:
•Penilaian untuk pembelajaran
•Penilaian sebagai proses pembelajaran
•Penilaian hasil belajar




Refrensi  gambar :
https://www.teachercast.net/blog/why-does-a-stem-curriculum-need-empathy/
https://www.interaction-design.org/literature/article/stage-1-in-the-design-thinking-process-empathise-with-your-users
https://citl.illinois.edu/paradigms/design-thinking

 

Catatan Redaksi: Isi/Konten menjadi tanggung jawab penulis.

Search