Berita

Publikasi Berita PPPPTK PKn dan IPS

Kabar dari Guru Profesional Indonesia di Negeri Kanguru (04)

Best Practice Pendidikan di Australia 

 

(Melbourne, 7 Maret 2019). Peserta dari PPPPTK PKn dan IPS di Monash University mendapat inspirasi berharga tentang best practice pendidikan Australia dari perspektif warga Australia dan Indonesia. Kami benar-benar beruntung karena bisa mendapatkan informasi yang komprehensif dari narasumber warga Australia yang berprofesi sebagai dosen, yakni Kristie Williamson dan Jenifer Cutri. Keduanya memiliki pengalaman secara langsung baik dalam belajar, mengajar, dan meneliti pendidikan di berbagai negara; Jepang, Cina, Hongkong, dan Australia.


Peserta berfoto bersama dengan nara sumber: Kristie Williamson dan Jenifer Cutri

 

Jenifer Cutri memaparkan bahwa sistem pendidikan dan pembelajaran di tiap negara memiliki perbedaan karena dipengaruhi oleh tata nilai, budaya lokal, dan kebijakan pemerintah. Kurikulum diaplikasikan untuk membentuk kondisi yang diharapkan oleh negara untuk memajukan negara tersebut. Di Australia, usia emas siswa adalah tahap penting yang kemudian diarahkan untuk mendapatkan pengalaman belajar, khususnya dalam hal melakukan proses berpikir dan bertindak sesuai dengan potensi, kecerdasan, dan nilai hingga terbentuk karakter yang khas. Perbedaan karakter berkonsekuensi terhadap proses pembelajaran yang digunakan. Proses tersebut memerlukan pendekatan aktifitas belajar yang fleksibel namun tetap sesuai kurikulum dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Kristie Williamson dan Jenifer Cutri menerima kenang-kenangan dari Peserta

 

Sementara itu, Kristie Williamson menjelaskan bahwa Guru Australia harus menguasai pedagogik, memberikan pelayanan prima kepada siswa dengan memahami karakter masing-masing siswa dan kebutuhannya. Guru merencanakan dengan membuat lesson plan hingga melakukan asesmen terhadap setiap siswa. Guru juga melakukan refleksi (berupa jurnal harian) yang digunakan untuk mencatat semua kelemahan dan kelebihan dalam pembelajaran juga mencatat keluhan siswa untuk melakukan perbaikan pembelajaran di masa depan.

Peserta semangat mengikuti pelatihan

 

Sehubungan dengan itu, kami juga mendapatkan info dari berbagai jenjang pendidikan Australia dari narasumber orang Indonesia yang menyekolahkan anaknya di sana. Tiwi, narasumber pertama menjelaskan bahwa di tingkat dasar, pembelajaran dilaksanakan dengan berbasis tematik yang diarahkan agar siswa terbiasa berpikir kritis, kreatif, dan kontekstual serta hidup secara damai dan teratur. Pramesti, narasumber kedua menjelaskan bahwa pembelajaran siswa di level secondary school terdiri dari beberapa mata pelajaran, kecakapan umum, dan kurikulum prioritas irisan. Hadi Hariyanto, narasumber ketiga juga memaparkan penjelasan tentang ini. Hal yang mungkin berbeda dengan di Indonesia adalah bahwa semua siswa Australia yang bersekolah akan mendapatkan laporan nilai autentik sesuai dengan kemampuannya, tanpa ada siswa yang tinggal kelas.  Bahkan sejak level secondary school siswa sudah diajak untuk menentukan pemilihan profesi yang kemungkinan akan ditekuni oleh siswa di masa depan. Persamaan di tiap level yang penting untuk diketahui adalah bahwa keberhasilan pendidikan siswa di Australia memiliki faktor kunci, yakni selalu melibatkan orangtua. Sinergi positif ini terjalin karena adanya komunikasi efektif terjalin di antara dua pihak, yakni sekolah dan orangtua untuk memastikan setiap siswa berkembang sesuai dengan karakter, minat, dan potensinya.

Peserta foto bersama dengan nara sumber: Pramesti, Pratiwi, dan Hadi Hariyanto 

 

Materi tentang best practice pendidikan di negara Australia dalam perspektif warga Australia dan Indonesia ini memberikan pelajaran berharga bagi peserta diklat. Beberapa hal positif bisa kita terapkan di indonesia di antaranya adalah maksimasi usia emas siswa, pembelajaran berdasar karakter, potensi, dan kebutuhan individu dengan lesson plan, dan asesmen yang kontekstual serta pembelajaran berbasis critical and creative thinking dan humanity.

Peserta serius mengikuti pelatihan

 

Materi Kedua pada hari keempat adalah tentang Digital Literacy yang disampaikan Oleh Mohammad Nazil, Kandidat Ph.D. Monash University. Di era globalisasi ini, literasi digital berkembang sangat pesat. Menurut Paul Gilster dalam bukunya yang berjudul Digital Literacy (1997), literasi digital diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti komputer. Terdapat delapan elemen esensial untuk mengembangkan literasi digital, yaitu kultural, kognitif, konstruktif, komunikatif, kreatif, kritis dalam menyikapi konten dan bertanggung jawab secara sosial.

 

Kontributor: Gatot Malady, Suparlan, Muhammad Hari

Foto: Noli Wibowo

Penyunting: Tricahyo Abadi 

Search