Berita

Publikasi Berita PPPPTK PKn dan IPS

Kabar dari Guru Profesional Indonesia di Negeri Tirai Bambu (05)

PEMBAHARUAN PENDIDIKAN DI XUZHOU, CHINA “LEARNING IN AND SPEAKING OUT”

Hari ini Jum’at 8 Maret 2019, merupakan hari ke 6 bagi kami Guru-guru Indonesia, sebagai duta dari PPPPTK PKn dan IPS berada di China, tepatnya di kota Xuzhou provinsi Jiangsu. Mungkin belum familiar bagi kita semua mendengar kota Xuzhou atau Jiangsu. Memang kota ini tidak seterkenal Shanghai yang menjadi pusat perkembangan fashion atau juga Beijing yang merupakan Ibukota  Negara sekaligus merupakan pusat sepatu dan industri rumah tangga. Namun ternyata provinsi Jiangsu juga menjadi daerah yang sangat diperhitungkan perkembangannya. Salah satunya karena di Jiangsu tepatnya di kota Xuzhou merupakan pusat pendidikan, layaknya Jogjakarta  di Indonesia. 

 

 

 

Xuzhou merupakan kota yang mendapatkan peringkat pertama untuk kategori pendidikan. Hal ini tentunya bukan tanpa usaha, namun ada proses pembaruan yang panjang yang harus di lalui. Sebelum dilakukan pembaruan, masalah pendidikan yang dialami Xuzhou sangat kompleks, diantarnya: Guru sibuk dengan banyak jadwal mengajar dan  pengembangan diri, siswa terlalu pasif, guru mengajar namun tidak efisien dan situasi pembelajaran yang membosankan. 

Dalam rangka menjawab permasalahan pendidikan di Xuzhou, maka dilakukan aksi pembaharuan kurikulum regional yang disebut dengan Learning In and Speaking Out. Dalam kurikulum ini, siswa adalah inti utamanya. ‘Learning In’ yang dimaksud adalah siswa menerima pembelajaran dengan antusias dan perasaan senang untuk meningkatkan motivasi belajar mandiri. ‘Speaking Out’ yaitu saling berkomunikasi antar siswa, antar guru dan siswa dalam memecahkan masalah. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa ‘Learning In’ adalah dasar siswa untuk bisa melakukan ‘Speaking Out’. Siswa harus benar-benar berkomitmen dan berkonsentrasi penuh pada proses ‘Learning In’ untuk bisa melanjutkan ke proses berikutnya. Pembelajaran yang baik adalah yang bisa mengubah siswa pasif menjadi aktif dan mengubah pola menerima menjadi pola mengeksplorasi.

Hal yang menarik yang dilakukan oleh guru-guru di Xuzhou dalam menerapkan Learning In and Speaking Out adalah bagaimana mereka menahan diri untuk tidak langsung membantu siswa jika mengalami kesulitan. Dalam pembelajaran, guru jarang sekali membantu siswa secara langsung dalam menyelesaikan masalahnya. Guru memberi kesempatan pada siswa untuk memikirkan, berdiskusi dan memecahkan masalah bersama yang mereka hadapi. Guru melangkah mundur satu langkah dan berjalan di belakang siswa. Yang belajar adalah siswa bukan guru. Proses penemuan oleh siswa adalah hal penting yang sangat dijunjung tinggi dan perlu dihargai dalam proses pembelajaran. Diibaratkan, “Jika ada kesempatan untuk mendaki gunung, biarkan siswa berada di depan. Guru berjalan di belakang mereka”. Siswa dibiarkan untuk mengeksplor dunia namun tetap berada pada pengawasan sang guru.

Pada saat berdiskusi atau menyampaikan  ide dan gagasan, maka guru hendaknya berhenti satu langkah.  Maksudnya adalah jika ada masalah yang mereka hadapi, guru harus menahan diri untuk tidak menuntun siswa dengan pemikiran guru. Guru harus membimbing siswa sehingga ia memiliki pemikirannya sendiri.  Ketika proses menyimpulkan atau refleksi maka guru mengambil  satu langkah perlahan ke depan. Dalam hal ini guru mengambil sedikit peran untuk meluruskan kesalahan, namun tetap siswa yang berperan besar menemukan dan menentukan segala keputusan.

Ketertarikan lain dari pembaruan pendidikan Learning In dan Speaking Out adalah terkait teori Maslow yang mengatakan bahwa kebutuhan paling puncak adalah kebutuhan akan aktualisasi diri. Selama ini hubungan antara guru dan siswa bersifat transfer knowledge, dengan pola guru dianggap paling tahu, sedangkan siswa dianggap belum tahu apa-apa. Namun dalam pembaharuan pendidikan di Xuzhou, hal ini menjadi salah satu aspek yang harus di perbaharui, dimana siswa pada dasarnya memiliki potensi untuk mengeksplorasi segala pengetahuannya dan menyampaikan kepada temannya. Dalam hal ini ketika siswa mengeksplorasi segala pengetahuannya (learning In), maka bentuk aktualisasi dirinya adalah dengan mentransfer segala pengetahuannya itu ke teman sebayanya (Speaking Out). Proses belajar dengan mengajarkan kepada teman sebaya akan lebih meningkatkan kemampuan siswa, dibanding hanya menerima (mendengarkan) dari guru.  

Setelah diterapkannya pola ‘Learning In and Speaking Out’,  kondisi pendidikan di Xuzhou semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sesuai data dari Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Jiangsu, metode mengajar guru di Xuzhou telah mengalami perubahan. Hubungan akademis antara guru dan siswa secara berangsur-angsur semakin meningkat. Pada akhirnya hasil belajar siswa juga jauh mengalami peningkatan.

Sebagai info tambahan China telah menerapkan seleksi yang ketat dalam proses perekrutan guru. Mereka harus mengikuti serangkaian tes yang ketat dengan banyak pesaing. Dalam satu minggu, guru mengajar 3 kelas yang berbeda dengan total 12 sesi. Masa sekolah di China tidak berbeda dari di Indonesia. TK selama 3 tahun, SD selama 6 tahun, SMP selama 3 tahun, SMA selama 3 tahun, S1 selama 4 tahun dan S2 selama 3 tahun.  Durasi jam pelajaran di cina adalah 40 menit untuk SD dan 45 menit untuk SMP.

Siswa SD tidak ada ujian standar nasional karena mereka belum mampu untuk mengikutinya. Tidak ada sistem ranking di China. Peran orangtua sangat penting pada masa Sekolah Dasar. Oleh karena itu mereka mengadakan pertemuan dengan wali murid minimal sebulan sekali dan membentuk grup komunikasi di WeChat. Guru dan orang tua bekerjasama untuk keberhasilan pendidikan putra-putri mereka. 

 

Kontributor / Sumber : Anugrah Resmana, Ayu Chandra Astari, Miftah Faturohman
Dokumentasi : Erning
Editor : Alvisah
Dipublikasikan oleh : Seksi Data dan Informasi P4TK PKn dan IPS Kemendikbud

Search