Berita

Publikasi Berita PPPPTK PKn dan IPS

Post-Departure Guru Ke Luar Negeri (01)

Penerapan STEM dan HOTS dalam Ilmu Sosial

 

Para guru dan widyaiswara duta dari PPPPTK PKn dan IPS yang telah melaksanakan Pelatihan Guru ke Australia dan China mempresentasikan penerapan science, technology, engineering, and mathematics (STEM) dan higher order thinking skills (HOTS) dalam pembelajaran. Presentasi sebagai laporan pelaksanaan kegiatan tersebut disampaikan dalam seminar interaktif di hadapan pejabat struktural, widyaiswara, dan staf di lingkungan PPPPTK PKn dan IPS, pagi ini (26/03/2019).

Gatot Malady, widyaiswara pendamping tim Australia

Gatot Malady, widyaiswara pendamping guru duta ke Australia. 

 

Wakil tim Australia mengawali presentasi implementasi HOTS hasil studi di Monash University. Gatot Malady, salah satu widyaiswara pendamping duta ke Australia menyampaikan bahwa kurikulum Australia menerapkan HOTS dalam bentuk pembelajaran berbasis critical and creative thinking dan inquiry learning. Gatot menegaskan, implementasi pembelajaran HOTS secara fleksibel di sekolah-sekolah Australia harus menjadi bahasan penting demi keberhasilan pendidikan di Indonesia. 

"Kita sudah memiliki kurikulum yang baik, walaupun jika dianalisis dari struktur HOTS masih lebih kecil dibanding struktur kurikulum Australia," imbuh Sukamto, guru dari SMAN 1 Kandangan Kediri. Laporan tim Australia dilanjutkan Ryan Aminullah Yassin dari SMKN 1 Trenggalek dengan mempresentasikan perbandingan struktur kurikulum Australia dengan kurikulum Indonesia.

 

Ryan Aminullah Yassin dari SMK Negeri 1 Trenggalek Tim Australia mempresentasikan laporannya.

 

Untuk menindaklanjuti studi ini, tim Australia berencana menyusun dua buah buku dengan judul Berburu HOTS di Negeri Kanguru dan 12 Strategi Pembelajaran HOTS pada Mata Pelajaran PPKn

Tim STEM yang melaksanakan studi di International Universities Allience (IUIA), China melanjutkan laporan dengan videonya yang berjudul "STEM, Education Problem Based Learning". Dari observasi ke beberapa sekolah di China, Anugrah Resmana dari SMPN 4 Curugbitung, Banten sebagai wakilnya menyampaikan bahwa STEM pada sekolah tersebut diberikan pada kelas tertentu saja. Pria yang akrab dipanggil Nugie tersebut menambahkan bahwa STEM di China telah dikembangkan lebih lanjut ke arah Arts (seni) menjadi STEAM.

 

Anugrah Resmana dari BantenAnugrah Resmana dari Banten

 

Nugie juga melaporkan bahwa masing-masing daerah di China dapat mengembangkan cara belajarnya secara tersendiri dalam kurikulum yang ada dengan satu prinsip yang diterapkan China, yaitu: budaya, bangsa, dan negara. Model pembelajaran di China mengutamakan pada peran guru dalam pemecahan masalah, pengembangan, diskusi, dan refleksi. Tujuan pembelajaran diraih dengan strategi Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM), belajar langsung dari ahlinya, dan bahkan memanfaatkan aplikasi WECHAT. Salah satu kunci keberhasilan pendidikan di China adalah love and respect (kasih sayang dan hormat) antara guru dan murid.

Tim China juga menyusun satu buku sebagai tindak lanjut studi dengan judul Mengapa harus ke China?. Lebih lanjut disampaikan agar PPPPTK PKn dan IPS mengimplementasikan model sekolah binaan sebagai bentuk implementasi mata pelajaran bidang PKn dan IPS. Tim China berancang-ancang akan mengembangkan STEAM dengan menambah aspek sosial menjadi STEAMS. 

PPPPTK PKn dan IPS telah memfasilitasi guru sebanyak 30 orang ke Australia untuk mempelajari penerapan HOTS dan 10 orang ke China untuk mempelajari implementasi STEM. Masing-masing tujuan didampingi dua orang widyaiswara dari PPPPTK PKn dan IPS. Sebagai rangkaian kegiatan post-departure, pagi ini dilaksanakan seminar hasil dan tindak lanjut program tersebut di Ruang Teater Gedung Puncak Jaya, PPPPTK PKn dan IPS. Para duta mengucapkan terima kasih kepada PPPPTK PKn dan IPS atas kesempatan berharga untuk menimba ilmu di luar negeri.

 

Penulis: Akhmadi

Penyunting: Tricahyo Abadi

Foto: Mamik Suryono Kusdi

Search