Berita

Publikasi Berita PPPPTK PKn dan IPS

Dalam mendidik, Guru tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi

 

Jawa Timur, Mojokerto, Trowulan (21/04/2019)

 

Tantangan di era revolusi 4.0 semakin berat karena 25 tahun yang akan datang akan ada penurunan permintaan tenaga kerja karena digantikan oleh teknologi.

Contohnya pada sekarang ini, di jalan tol menggunakan kartu e-toll sehingga sudah mengurangi tenaga manusia. Meski demikian, profesi guru tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi, khususnya di dalam hal mendidik. Peran guru dalam proses pendidikan menjadi sangat penting terutama pada era digital, Revolusi Industri 4.0 dimana batas ruang dan waktu menjadi hilang, masalah-masalah sosial menyertai. Peserta didik dengan mudah memperoleh informasi, baik positif maupun negatif. Kondisi seperti ini jika dibiarkan akan merusak jati diri peserta didik sebagai generasi penerus bangsa. 

Di sinilah peran penting guru, disinilah pentingnya penanaman nilai-nilai wawasan kebangsaan yang berlandaskan pada Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia  dan Bhineka Tunggal Ika.  Nilai-nilai wawasan kebangsaan diharapkan mampu menjadi penangkal bagi peserta didik dari pengaruh negatif yang merusak keutuhan bangsa dan negara. Demikian dikatakan Dr. Supriano, Dirjen GTK Kemdikbud ketika menjadi keynote speaker Seminar Nasional Penguatan Wawasan Kebangsaan di Era Milenial pada Sabtu (20/4) di Museum Trowulan, Mojokerto kemarin. 

 

 

Seminar Nasional yang diselenggarakan PPPPTK PKn dan IPS dalam rangka Semarak Hardiknas 2019 ini juga menghadirkan beberapa narasumber. Diantaranya Prof. Hariyono dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Dr. Heri Santoso dari Pusat Studi Pancasila UGM, serta Drs. H. Subandi, MM, Kepala Pusat PPPPTK PKn dan IPS. 

Di hadapan sekitar 200-an orang guru peserta, Prof. Hariyono kembali mengingatkan pentingnya pemahaman dan pengamalan ideologi bangsa, Pancasila, dalam memperkuat wawasan kebangsaan. “Menjelaskan, mengembangkan, dan mengamalkan Pancasila sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zaman merupakan tanggungjawab pendidikan nasional.” Demikian ungkap guru besar UM yang saat ini diamanahi Plt. Ketua BPIP. 

Sementara itu, Dr. Heri Santoso berbagi pengalaman tentang strategi pembelajaran terkait penguatan wawasan kebangsaan bagi generasi milenial. Penelitian yang dilakukan PSP UGM (2018) terkait Indeks Ketahanan Ideologi di Papua Barat, Maluku, NTT, Bali, Sulsel, Kalbar, DIY, DKI, dan Sumut telah banyak memberikan inspirasi bagi guru. Peran guru tidak hanya menjadi fasilitator, tapi juga harus bisa menjadi inisiator, motivator, inovator, kreator, promotor, kolaborator, dan evaluator. Contoh pembelajaran dengan permainan, membuat yel-yel, model motivasi, apresiasi film, puisi, dan lagu, serta belajar di lapangan dan membuat sesuatu tidak saja berusaha membuat pembelajaran menyenangkan. Akan tetapi menjadikan pembelajaran yang kaya pengalaman dan bermakna bagi peserta didik.

 

 

 

Sedangkan di akhir sesi seminar yang dimoderatori Dr. Ari Pujiastuti (widyaiswara) ini ditutup dengan presentasi Drs. H. Subandi, M.M. Selaku kepala pusat, beliau mengatakan banyak hal telah dilakukan lembaga terkait upaya penguatan wawasan kebangsaan. PPPPTK PKn dan IPS telah memberikan mata diklat wawasan kebangsaan di semua diklat peningkatan kompetensi guru di semua mapel bidang PPKn dan IPS, membuat film dan mengembangkan aplikasi terkait pembelajaran Pancasila, serta telah sedang menyiapkan sebuah model penguatan wawasan kebangsaan dengan metode yang menyenangkan dan bermakna.

 

 

 

 

Penulis : Gatot Malady
Foto Dokumentasi : Mamik Suryono Kusdi, Sukirman
Editor : M Toni Satria D
Dipublikasikan oleh : PPPPTK PKn IPS, Kemdikbud

 

Search